Nasional

Dipukul, Diborgol, Disita Obatnya: Kesaksian Relawan Flotilla dan Perjalanan Panjang 9 WNI Pulang dari Israel

Pasukan Israel mencegat kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional dengan kekerasan fisik. Tujuh relawan mengalami 35 patah tulang. Sembilan WNI kini dalam perjalanan menuju Indonesia setelah dikawal Kementerian Luar Negeri RI.

JAKARTA, Matanetizen.com —  kapal Global Sumud Flotilla (GSF) masih berada di perairan internasional — lebih dari 500 kilometer dari garis pantai Israel — ketika komunikasi tiba-tiba terputus. Tak lama berselang, tentara Israel naik ke atas kapal dengan senjata lengkap. Yang terjadi setelahnya menjadi kesaksian yang kini beredar di berbagai negara.

Julien Cabral, relawan asal Belgia yang turut berada di kapal, menggambarkan situasi pencegatan itu dalam keterangannya. Ia menyebut para tentara membuka tembakan dengan peluru plastik, memukul para relawan, membekuk tangan mereka dengan borgol, lalu mengikat dan memasukkan mereka ke dalam kontainer di atas kapal. Wajah Cabral sendiri mengalami memar yang terlihat jelas setelah insiden itu.

Dari sekitar 200 orang yang ditahan dalam operasi pencegatan tersebut, sembilan di antaranya adalah warga negara Indonesia (WNI). Mereka bergabung dalam misi yang dikoordinasi sebagian oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) — sebuah inisiatif relawan lintas negara yang berupaya menembus blokade Israel untuk membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Kronologi: Dari Perairan Internasional ke Penjara Ktziot

Berikut rangkaian peristiwa berdasarkan keterangan yang dihimpun dari berbagai sumber:

  • Senin, 18/5Kapal GSF dicegat di perairan internasional, lebih dari 500 km dari pantai Israel. Komunikasi diputus. Tentara Israel naik dengan senjata, menembak peluru plastik, memukul dan memborgol relawan, lalu memasukkan mereka ke dalam kontainer.
  • Rabu, 20/5Para relawan diturunkan di Pelabuhan Ashdod, Israel selatan. Mereka menjalani proses pemeriksaan sebelum dipindahkan ke fasilitas detensi imigrasi. Sebagian dipindahkan ke Penjara Ktziot.
  • Kamis, 21/5Proses pemulangan dimulai. Sembilan WNI berangkat menuju Istanbul, Turki, dikawal oleh pejabat Kementerian Luar Negeri RI. Belum dikonfirmasi apakah mereka telah tiba di Indonesia.

‘’Hingga berita ini diterbitkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai waktu pasti kepulangan 9 WNI ke Indonesia. Kemlu RI dalam pernyataannya hanya menyebut proses pengawalan sedang berlangsung.’’

Kondisi di Kapal: 35 Patah Tulang dan Obat yang Disita

Keterangan dari para relawan menggambarkan kondisi yang berat selama pencegatan dan penahanan. Setidaknya tujuh relawan dilaporkan mengalami total 35 patah tulang. Salah satu relawan yang menderita epilepsi disebut kehilangan akses terhadap obat-obatannya karena disita saat pemeriksaan.

Selain itu, para tahanan dilaporkan mengalami kekurangan air bersih, makanan yang memadai, tisu toilet, hingga pembalut. Kondisi ini disampaikan melalui keterangan yang dikumpulkan dari para saksi, termasuk Cabral, yang menjadi salah satu narasumber kunci dalam insiden ini.

“Para relawan dipukul, diborgol, dan dimasukkan ke kontainer sejak pertama kali tentara naik ke kapal.”

— Berdasarkan keterangan Julien Cabral, relawan asal Belgia, saksi kunci pencegatan

“Para relawan dipukul, diborgol, dan dimasukkan ke kontainer sejak pertama kali tentara naik ke kapal.”

— Berdasarkan keterangan Julien Cabral, relawan asal Belgia, saksi kunci pencegatan

Organisasi hak asasi manusia Adalah turut memantau situasi ini dan menyoroti kondisi penahanan para relawan internasional. Belum ada tanggapan resmi dari pihak pemerintah Israel mengenai spesifik laporan kekerasan tersebut hingga berita ini diturunkan.

Pemeriksaan Hukum atau Penahanan Sepihak?

Israel menyatakan bahwa relawan yang dibawa ke Ashdod menjalani proses pemeriksaan resmi. Namun keterangan dari para korban menggambarkan pengalaman yang berbeda jauh: kekerasan fisik di kapal, kondisi detensi yang minim fasilitas dasar, dan penyitaan obat milik tahanan.

Gap antara narasi “proses hukum” versi Israel dan fakta yang dialami langsung oleh para relawan menjadi soal yang kini diperhatikan oleh berbagai kalangan, termasuk lembaga-lembaga pemantau HAM internasional. Pertanyaan yang belum terjawab: apakah seluruh sekitar 200 tahanan sudah dibebaskan atau baru sebagian yang menjalani deportasi.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono memastikan pihaknya mengawal langsung proses pemulangan 9 WNI. Sementara itu, nama Heni Hamidah dan Bilal Kitay disebut dalam koordinasi antara pihak keluarga dan GPCI selama proses pencarian informasi mengenai kondisi para WNI di Israel.

Kemlu RI belum merilis keterangan lengkap mengenai kondisi kesehatan kesembilan WNI tersebut maupun jadwal pasti kepulangan mereka ke Tanah Air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *