Lifestyle

Temon Templar Meninggal di Usia 59, Lulusan Psikologi UI

JAKARTA SELATAN, MATANETIZEN.COM  — Komedian senior Simson Rarameha Ngadang, yang dikenal luas dengan nama panggung Temon Templar, meninggal dunia pada Minggu (12/7/2026) pukul 08.42 WIB setelah sempat dilarikan ke RSUD Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Pihak manajemen Temon, Novi, mengonfirmasi penyebab meninggalnya sang komedian: serangan jantung disertai riwayat hipertensi. Kepergian Temon di usia 59 tahun mengejutkan banyak kalangan karena ia tidak menunjukkan keluhan serius sebelumnya.

Kepergian yang Mendadak

Road manager Temon, Kodil, menyampaikan bahwa almarhum dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 08.00 WIB, mendapat penanganan singkat dari dokter RSUD Mampang Prapatan, dan dinyatakan meninggal dunia tak lama setelah tiba. Kerabat yang hadir di rumah duka mengungkapkan bahwa Temon masih terlihat bugar saat tampil bersama tim PASKI Jakarta dalam perayaan HUT Jakarta di Ancol, Jakarta Utara, beberapa hari sebelum meninggal.

Jenazah pertama kali disemayamkan di rumah duka di Kompleks Polri Pondok Karya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Pada Minggu sore pukul 15.00 WIB, jenazah dipindahkan ke Gedung Serbaguna 1 GPIB Effatha, Melawai, Kebayoran Baru, untuk menjalani rangkaian ibadah penghiburan bersama keluarga dan jemaat. 

Ibadah penghiburan digelar Minggu malam pukul 20.00 WIB, dilanjutkan dengan ibadah pelepasan pada Senin (13/7/2026) pukul 11.00 WIB sebelum jenazah dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. 

Berikut kronologi prosesi kepergian Temon Templar:

  • Minggu, 12 Juli 2026, pukul 08.00 WIB: Temon dilarikan ke RSUD Mampang Prapatan setelah kondisinya memburuk di rumah
  • Pukul 08.42 WIB: Temon dinyatakan meninggal dunia; kabar dikonfirmasi manajemen (Novi) kepada media
  • Pukul 15.00 WIB: Jenazah dipindahkan dari rumah duka ke GPIB Effatha, Melawai, Kebayoran Baru
  • Pukul 20.00 WIB: Ibadah penghiburan digelar di GPIB Effatha bersama keluarga dan jemaat
  • Senin, 13 Juli 2026, pukul 11.00 WIB: Pemakaman di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan

Komedian Berpendidikan Tinggi yang Pilih Panggung Komedi

Di balik gaya lawak khasnya, Temon menyimpan latar belakang akademik yang jarang diketahui publik. Lahir di Jakarta pada 28 Desember 1966, ia masuk Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada 1985 melalui jalur prestasi PMDK dan merampungkan studinya pada 1995 setelah menempuh waktu sembilan tahun akibat kendala dalam penulisan skripsi.

Setelah meraih gelar Sarjana Psikologi, Temon sempat bekerja sebagai staf HRD dan mempraktikkan ilmu psikologinya di sebuah rumah sakit jiwa sebelum akhirnya memilih jalur hiburan. Kariernya di industri hiburan dimulai pada 1992 saat ia bergabung sebagai penyiar Radio SK, stasiun radio yang melahirkan banyak komedian besar Indonesia. Di sinilah ia pertama kali bertemu Abdel Achrian.

Puncak popularitas Temon tiba pada 2008 ketika sitkom Abdel dan Temon Bukan Superstar tayang perdana di Global TV pada 14 Juli 2008. Karakter Temon yang khas — apes namun polos — sukses menjadi tontonan favorit dan melahirkan beberapa seri lanjutan. Selain sitkom, almarhum juga membintangi sinetron Preman Sholeh dan Menolak Talak, serta tampil di film layar lebar termasuk COMIC 8: Casino Kings dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1.

Duka dari Dunia Hiburan Indonesia

Kabar meninggalnya Temon disambut ungkapan duka dari banyak rekan sesama komedian dan figur hiburan. Abdel Achrian mengunggah foto berdua bersama almarhum di Instagram dan menyisipkan lagu John Mayer berjudul You’re Gonna Live Forever in Me sebagai pengantar. “Innalilahi wainnailaihi rojiun. Selamat jalan, Mon,” tulis Abdel.

Sejumlah nama besar turut menyampaikan belasungkawa, di antaranya Andre Taulany, Habib Jafar, Bopak Castello, Ernest Prakasa, Indra Bekti, Rico Ceper, Armand Maulana, dan Artika Sari Devi. Karangan bunga dari rekan-rekan sesama artis memenuhi area depan rumah duka sepanjang hari.

Kepergian Temon kembali mengingatkan publik pada risiko hipertensi yang kerap tidak menunjukkan gejala berat sebelum memicu komplikasi serius seperti serangan jantung. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hipertensi menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit jantung koroner di Indonesia dan sering tidak terdeteksi hingga komplikasi terjadi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak keluarga mengenai rencana ibadah lanjutan setelah pemakaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *