JAKARTA, MATANETIZEN.COM — Sebanyak 9.505 personel gabungan dari Polri, TNI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Pengamanan Dalam (Pamdal) dikerahkan untuk mengamankan 52 kegiatan masyarakat di wilayah hukum Polda Metro Jaya, termasuk 26 aksi unjuk rasa yang tersebar di berbagai titik Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026. aksi digelar dalam momentum dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dan 47 elemen massa yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Komite Sadar) sebagai peserta utama.
Kapolda Metro Jaya Komisaris Jenderal Polisi Dadang Hartanto memimpin apel kesiapan pengamanan di Silang Selatan Monas, Jakarta Pusat, didampingi Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Jaya Letjen TNI Deddy Suryadi.
“Konsep pengamanan kita hari ini, TNI dan Polri, adalah memberikan pelayanan kepada warga negara sebagai wujud bahwa negara kita adalah negara demokrasi,” kata Dadang di Monas, Selasa, 20 Oktober 2026.
Rincian personel yang dikerahkan terdiri atas 7.660 personel Polri, 1.540 personel TNI, 135 personel Pemprov DKI Jakarta, dan 170 personel Pamdal. Dinas Perhubungan DKI Jakarta juga mengerahkan 1.000 petugas tambahan untuk mendukung pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi aksi.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto menyampaikan dari 47 elemen massa yang berencana menggelar aksi, baru dua kelompok yang menyampaikan pemberitahuan resmi kepada Polda Metro Jaya.
“Kami berterima kasih kepada dua elemen ini yaitu BEM UI dan Universitas Jayabaya yang sudah menyampaikan tentang pemberitahuan aksi pada hari ini, termasuk titik aksi dan jumlah massa,” kata Budi.
Rekayasa lalu lintas diberlakukan secara situasional di sekitar Istana Negara, Jalan Sudirman-Thamrin, dan Gedung DPR/MPR RI apabila terjadi kepadatan. Masyarakat diimbau memantau informasi lalu lintas melalui akun resmi @poldametrojaya dan @tmcpoldametro atau menghubungi layanan Polisi 110.
Lima Tuntutan Karhutla hingga Biaya Pendidikan
Aksi BEM UI berlangsung di dua lokasi. Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan menyatakan aksi simbolik digelar di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, pada pukul 09.00 WIB, dilanjutkan aksi massa di Tugu Tani pada pukul 15.00 WIB.
Sebelum menggelar aksi, Komite Sadar melakukan penjaringan aspirasi melalui survei terhadap 560 responden dari Sumatera hingga Papua sebagai landasan penyusunan tuntutan.
Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra menyampaikan lima tuntutan secara langsung dalam orasi di Tugu Tani. Lima tuntutan tersebut adalah:
- Menetapkan karhutla dan banjir sebagai bencana nasional, menjamin dan memulihkan kesehatan warga terdampak, serta mengadili dan mencabut izin korporasi yang dinilai bertanggung jawab atas krisis lingkungan
- Perbaikan tata kelola kebijakan ekonomi nasional dan pemulihan kepercayaan pasar serta stabilitas ekonomi rakyat
- Menghentikan pembatasan kebebasan berpendapat dan berekspresi
- Pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN)
- Penurunan biaya pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik disertai pemerataan akses
“Di hari ini kita membawa lima tuntutan. Yang pertama adalah untuk menetapkan karhutla sebagai bencana nasional dan untuk memulihkan ekosistem di sana tentunya,” kata Fathimah dalam orasinya di Tugu Tani.
Mahasiswa dari Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan, turut diundang hadir untuk membawa perhatian terhadap dampak langsung karhutla di wilayahnya. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam Komite Sadar melepas jas almamater selama aksi berlangsung sebagai simbol peleburan identitas kampus.
