PONOROGO, MATANETIZEN.COM — Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia harus mandiri di sektor pangan dan energi agar tidak bergantung pada negara lain, dalam sambutan pada Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu (19/9/2026). Prabowo menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pangan dan, sejak 1 Juli 2026, tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri.
Dunia Penuh Konflik, Kemandirian Jadi Keharusan
Dalam sambutannya di hadapan santri dan tamu undangan, Prabowo menyoroti situasi global yang menurutnya diwarnai konflik dan peperangan di berbagai kawasan. Ia menilai kondisi tersebut membuktikan pentingnya kemandirian pangan dan energi yang selama ini ia dorong.
Presiden menyampaikan Indonesia sudah swasembada pangan dengan cadangan yang dinilainya cukup. Ia menyebut pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan cuaca ekstrem, termasuk fenomena El Nino dan kekeringan, sebagai bagian dari langkah menjaga ketersediaan pangan nasional.
Klaim Setop Impor Solar Sejak 1 Juli
Selain pangan, Prabowo menyoroti capaian di sektor energi. Ia menyatakan sejak 1 Juli 2026 Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri, seiring penerapan campuran biodiesel berbasis kelapa sawit hingga 50 persen atau dikenal sebagai B50. Menurutnya, kebutuhan solar nasional kini sepenuhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Prabowo mengaitkan pencapaian tersebut dengan kondisi pasokan solar dunia yang menurutnya tengah langka akibat gejolak geopolitik global. Ia menyebut ketersediaan uang saja tidak menjamin ketersediaan barang di pasar internasional saat ini, sehingga kemampuan produksi solar dalam negeri dari kelapa sawit dinilainya sebagai keuntungan strategis.
Presiden juga menyinggung rencana pengembangan bahan bakar nabati lain, termasuk bensin berbahan kelapa sawit serta rencana produksi bensin dari batu bara sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi nasional.
Ajakan kepada Generasi Muda dan Santri
Di akhir sambutannya, Prabowo mengajak generasi muda, khususnya kalangan santri, untuk tetap optimistis menyambut masa depan Indonesia. Ia meminta masyarakat berhati-hati terhadap informasi di media sosial yang dinilainya berpotensi melemahkan semangat kolektif bangsa.
Prabowo menegaskan pemerintah tidak ingin Indonesia menjadi negara yang bergantung pada bangsa lain dan berkomitmen membangun kemandirian nasional di berbagai sektor strategis.
Konteks dan Perdebatan yang Masih Berlangsung
Klaim swasembada pangan pemerintah bukan pernyataan baru. Pada sejumlah kesempatan sebelumnya, sejak awal masa pemerintahan Prabowo, klaim serupa pernah memicu perdebatan di kalangan ekonom dan pengamat pertanian, khususnya soal definisi teknis “swasembada” dan sejauh mana ambang batas ketergantungan impor yang masih bisa disebut mandiri. Perdebatan ini bersifat umum dan berlangsung dari waktu ke waktu, dan tidak secara spesifik merespons pernyataan Prabowo di Gontor pada Sabtu ini.
Adapun rincian teknis seperti kapasitas produksi solar berbasis B50 secara nasional dan angka pasti cadangan pangan yang dimaksud Presiden, belum dipaparkan secara spesifik dalam pidato tersebut.
Dampak dan Status Terkini
Pernyataan ini menegaskan arah kebijakan pemerintah di sektor pangan dan energi, dengan kelapa sawit ditempatkan sebagai komoditas strategis dalam mendukung target swasembada energi nasional. Kebijakan penghentian impor solar sejak 1 Juli 2026 turut berdampak pada sektor pertanian sawit sebagai pemasok bahan baku biodiesel B50.
Hingga berita ini diturunkan, acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor telah selesai dilaksanakan. Pemerintah belum merilis data teknis lebih rinci mengenai kapasitas produksi B50 nasional maupun rincian volume cadangan pangan yang disebut Presiden dalam pidatonya.
