Orang Tua Korban Keracunan MBG Pati Harap Program Dihentikan dan Diganti Kartu

PATI, MATANETIZEN.COM — Kartin, ibu dari salah satu siswa yang diduga mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyatakan harapannya agar program MBG dihentikan dan digantikan dengan skema bantuan lain seperti kartu, Jumat, 11 September 2026. Pernyataan itu disampaikan Kartin dalam dialog Sapa Indonesia Pagi di Kompas TV. Ia mengakui anaknya baru pertama kali mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi MBG, setelah sebelumnya selalu sehat.

Makanan Terasa Enak, Namun Anak Jatuh Sakit

Kartin menyatakan tidak ada yang mencurigakan pada makanan MBG yang dikonsumsi anaknya. “Tidak ada yang aneh pada rasa dan aromanya. Anak saya bahkan bilang makanannya enak,” kata Kartin dalam dialog Sapa Indonesia Pagi, Kompas TV, Jumat, 11 September 2026.

Meski demikian, anaknya kemudian mengalami gejala keracunan. Kartin menegaskan kejadian ini baru pertama kali terjadi, karena sebelumnya anaknya tidak pernah bermasalah setelah mengonsumsi MBG. Ia mengaku lebih setuju jika program MBG dihentikan dan diganti dengan kartu bantuan. Namun ia juga menyatakan kesediaannya menerima program dilanjutkan apabila ada perbaikan tata kelola, termasuk kemungkinan penerapan skema kantin sekolah.

Ratusan Siswa Dua Sekolah Terdampak, SPPG Disetop 3 Bulan

Kasus dugaan keracunan MBG di Kabupaten Pati bermula pada Selasa, 8 September 2026, saat makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 1 dibagikan kepada siswa SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati. Distribusi hari itu mengalami keterlambatan — biasanya tiba sekitar pukul 11.20 WIB, namun baru sampai setelah pukul 12.00 WIB.

Beberapa jam setelah mengonsumsi makanan tersebut, keluhan mulai muncul. Sekitar pukul 23.00 WIB, sejumlah siswa MTsN 3 Pati mulai mengeluh sakit perut dan diare. Keluhan terus bertambah hingga Rabu pagi, 9 September 2026. Berdasarkan data sementara yang dihimpun dari sejumlah laporan, jumlah siswa terdampak dari dua sekolah berada pada kisaran 230 siswa, dengan rincian 103 siswa dan 13 guru dari SMPN 1 Gembong, serta 127 siswa dan 30 guru dari MTsN 3 Pati. Data final masih dalam proses pendataan oleh pihak berwenang.

Para korban dilarikan ke Puskesmas Gembong dan RSUD RAA Soewondo Pati. Karena daya tampung Puskesmas Gembong terbatas, sebagian korban dengan gejala berat dirujuk ke rumah sakit lain.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luky Pratugas Narimo membenarkan kejadian dan menyatakan pendataan serta penanganan masih berlangsung. “Kami mendapatkan laporan sekira jam 09.00 WIB, informasi kami dapat awal merupakan dugaan keracunan MBG yang disajikan kemarin. Ini masih dugaan,” kata Luky.

Sebagai respons, Pemerintah Kabupaten Pati menghentikan sementara operasional SPPG Gembong 1 sejak Rabu, 9 September 2026, selama tiga bulan dan dapat diperpanjang hingga enam bulan. Sampel makanan dari SPPG Gembong 1 telah dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Joko Leksono Widodo menyatakan hasil uji laboratorium akan menjadi bahan evaluasi terkait keamanan pangan serta proses pengolahan dan distribusi makanan. Hasil laboratorium diperkirakan keluar satu hingga dua minggu. Penyebab pasti kejadian belum dapat dipastikan hingga hasil pemeriksaan keluar.

Di tingkat provinsi, Wakil Gubernur Jawa Tengah sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyatakan pihaknya akan melakukan asesmen terhadap SPPG terkait sesuai arahan Badan Gizi Nasional (BGN). “Kita asesmen sesuai apa yang diarahkan oleh Kepala BGN, yang mana SPPG harus sesuai SOP yang telah diberlakukan serta terkait perizinan-perizinannya dan kelayakan atau higienisnya kita akan cek,” kata Taj Yasin, Rabu, 9 September 2026. BGN menyatakan kondisi korban keracunan MBG di Pati tidak mengkhawatirkan.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *